Share it

Selasa, 14 Juni 2011

SKB : Proyek Perkebunan Kopi


PROYEK PERKEBUNAN KOPI

oleh :
ARTHUR SIHOMBING

JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
2010

KESIMPULAN
  
            Studi kelayakan yang telah dilakukan terhadap Proyek Perkebunan Kopi ini layak untuk dilakukan. Pada aspek pasar yang menjadi target pasarnya adalah perusahaan/ industri pengolah biji kopi yang semakin banyak dan selalu bertambah seiring dengan tingginya permintaan. Kondisi ekonomi secara makro dan mikro memberikan sinyal yang baik guna pengembangan usaha yang ditandai pertumbuhan ekonomi yang meningkat, infrastruktur yang mendukung, dan kondisi sosial politik yang cukup stabil. Persaingan yang terjadi antar produsen kopi instan juga memberi kesempatan yang luas bagi perusahaan sebagai supplier biji kopi untuk meningkatkan penjualan dan pengembangan usaha. Pada aspek teknik, lokasi perkebunan yang strategis, ketersediaan bahan baku, pupuk dan pestisida, serta peralatan-peralatan pertanian modern sangat mendukung operasional.  
            Pada aspek manajemen, komposisi personalia yang mengelola perusahaan di seleksi dengan ketat dan ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya. Dengan menonjolkan kualitas biji kopi sebagai suatu produk akan menciptakan positioning yang baik di benak customer. Pada aspek keuangan, seperti terlihat pada tabel VII.1, arus kas menunjukkan kondisi keuangan yang cukup baik dengan nilai NPV DF 12% (3,929,229,279.40583) dan pada NPV DF 45% (621,324,419.609149) masih menunjukkan angka yang positif. Pengembalian modal proyek ini adalah 3 tahun 6 bulan yang memungkinkan rencana investasi dapat diterima. IRR (73%) dari proyek ini yang jika minimum attractive rate of returnya sampai 20% masih lebih besar IRR-nya dan nilai Profitability Index (PI) lebih besar dari 1 yaitu 4.
Dengan menelaah tinjauan dari berbagai aspek di atas, maka proyek ini dinyatakan layak untuk didirikan.

Selasa, 07 Juni 2011

Asal mula padan Sihombing dengan Naibaho

sebuah Legenda/cerita kuno yang mengisahkan awal mula parpadanan (Sumpah) antara Marga Sihombing Lumbantoruan dengan Marga Naibaho. Saya akan coba menuliskan turi-turian (cerita) ini dalam bahasa Indonesia sehari-hari.
Dahulu kala di daerah Humbang tengah terjadi peperangan antara Marga Sihombing dengan Marga Marbun. Jika kita ambil data-data tarombo marga, dalam hal cerita ini yang sedang berperang adalah Marga Sihombing yang bernama Op.Raung Nabolon yang memiliki 3 anak yaitu : Op.Hombar Najolo, op.Ginjang Manubung dan Op.Pande Namora. Sundut(Generasi) Nomor 4 dan Nomor 5 terhitung dari Borsak Sirumonggur Lumbantoruan (sesuai dengan aturan penomoran generasi marga Sihombing Lumbantoruan).
Jauh diseberang Danau Toba,tepatnya di pulau Samosir daerah Pangururan bermukim marga Naibaho ( anak pertama dari Siraja Oloan); ada keturunannya seorang Datubolon (Dukun pendekar sakti) yang bernama op.Datu Galapang. op.Datu Galapang ini dikenal sebagai pangaranto bolon (suka merantau) untuk mencari dan menjajal ilmu hasattian (kesaktian).
Terjadilah sebuah kisah memilukan dimana op.Datu Galapang mardenggan-denggan (berhubungan) dengan ibotonya sendiri yaitu namboru Siboru Naitang,sampai lahir keturunan dari mereka berdua itulah yang sekarang menjadi marga Sitindaon (sitandaon ma on=sebagai tandalah ini) atas persitiwa tersebut. Akibat dari kejadian ini membuat marah Marga Naibaho dan menjatuhkan hukuman kepada kedua pasangan terlarang tersebut. Op.Datu Galapang dibuang kehutan angker yang penuh dengan harimau buas sedangkan namboru Siboru Naitang dipanongnong (ditenggelamkan ke danau). Menurut mitos kuno yang masih dipercaya sampai sekarang, namboru SiBoru Naitang menjadi penunggu Danau Toba.
Singkat cerita, karena kesaktiannya op.Datu Galapang berhasil meloloskan diri dari Hutan angker tersebut dan pergi ke Humbang melanjutkan perjalanannya dalam mencari ilmu. Keunikan op.Datu Galapang ini,dia hanya membawa sebilah belati untuk senjatanya serta selalu membawa segumpalan tanah dan sekantung air.
Kembali ke awal cerita diatas,tengah berlangsung perang antara marga Sihombing dan marga Marbun.
Dikarenakan ada seorang pangulu balang (panglima perang) dari marga Marbun yang demikian kuat dan sakti,membuat marga Sihombing berada diambang kekalahan.
Karena Sihombing diambang kekalahan,mendengar bahwa op.Datu Galapang berada di humbang maka marga Sihombing berusaha meminta pertolongan kepadanya. Mungkin karena sudah dituntun oleh Mulajadi Nabolon (sebutan Tuhan dalam kepercayaan Batak kuno), op.Datu Galapang akhirnya membantu marga Sihombing yang sedang diambang kekalahan.
Op.Datu Galapang mendatangi wilayah marga Marbun dan bermaksud menemui panglima perang Marbun yang kuat dan sakti tersebut. Sesampainya didaerah kekuasaan Marbun,op.Datu Galapang menabur tanah dan menginjaknya serta meminum air yang dibawanya (inilah salah satu tanda kesaktiannya). Seketika datanglah Marga Marbun menghampiri dan berusaha mengusir op.Datu Galapang. Mendengar hal itu op.Datu Galapang hanya menjawab dengan perkataan : ” boasa palaohonmuna au? ia Tanokku do na hudege jala aekku do na huinum. (kenapa kalian mengusir saya? bukannkah tanahku sendiri yang kupijak dan airku sendiri yang kuminum).” Mendengar ucapan yang “tidak biasa” itu,Karena mereka sadar yang mereka temui tersebut bukan “orang sembarangan”,maka marga Marbun akhirnya memanggil panglimanya .Karena mereka sadar yang mereka temui tersebut bukan “orang sembarangan.”
Kesaktian panglima Marbun yaitu tidak dapat dibunuh selama badan dan kakinya menyentuh tanah (ilmu ini didaerah Jawa dikenal dengan ajian Rawa Ronteg ). Dengan sedikit akalnya,op.Datu Galapang mengakalinya dengan menyuruh panglima Marbun tersebut memanjat sebuah pohon mangga,karena diatas pohon tersebut terdapat sebuah mangga yang jika dimakan dapat menambah kesaktian seseorang. Ketika sang panglima memanjat pohon itu,serta merta pada saat itu kaki dan badannya tidaklah lagi menyentuh tanah.Kesempatan ini tidak disia-siakan Op.Datu Galapang, dan segera menikam tubuh panglima Marbun tersebut hingga tewas. Melihat panglimanya sudah tak berdaya lagi,semangat tempur marga Marbun menjadi mundur. Sampai akhirnya marga Marbun terkalahkan dan marga Sihombing memenangi perang tersebut.
Atas jasanya, maka op.Datu Galapang diampu (diangkat) anak oleh Marga Sihombing dan sejak saat itu sah telah menjadi Marga Sihombing bukan Naibaho lagi.Menjadi anak ke 4 dari Op.Raung Nabolon seperti telah disebutkan pada awal cerita diatas.
Demikianlah,sehingga terjadi parpadanan antara Marga Sihombing dan Naibaho.Karena jika dilihat secara genetik, keturunan marga Sihombing dari op.Datu Galapang hanya gelar marganya saja yang Sihombing Lumbantoruan,namun darah yang mengalir ditubuhnya tetap darah Raja Naibaho. Namun dikarenakan sumpah(padan) yang kuat,tidak hanya khusus kepada keturunan op.Datu Galapang saja yang tidak boleh marsibuatan (mengawini) dengan ibotonya sendiri (boru Naibaho) ;Anak dari op.Datu Galapang ada 3 yaitu : op.Tuan Guru Sinomba,op.Juara Babiat dan op.Datu Lobi. Tetapi berlaku kepada seluruh keturunan Marga Sihombing Lumbantoruan Lainnya.
Sebagai tambahan mengenai cerita diatas,sampai saat ini masih terdapat pro dan kontra apakah Marga Sihombing Lumbantoruan (khusunya keturunan dari Op.Datu Galapang) hanya berpadan dengan marga Naibaho saja, ataukah kepada ke 5 Marga Lainnya keturunan Si Raja Oloan yaitu : Sihotang,Sinambela,Bakkara,Manullang dan Sihite.Karena jika ditelaah lebih dalam dari uraian cerita diatas, op.Datu Galapang adalah keturunan langsung dari Marga Naibaho dimana didalam tubuhnya secara genetik mengalir darah Siraja Oloan???
Satu sumber menyebutkan,hanya marga Sihotang yang mau “mengikuti” padan diatas. Karena pernah diucapkan marga Sihotang kepada Marga Naibaho (sebagai haha dolinnya) : padanni Hahadoli nami siihuttonon hami do (sumpah kepada abang kami akan kami ikuti sebagai adiknya). Tapi dilain pihak ada beberapa pihak mengatakan bahwa yang marpadan hanyalah Marga Naibaho saja,bukan berarti ke 5 marga SiRaja Oloan yang lain mengikutinya. (karena ada beberapa marga Sihombing Lumbantoruan yang sudah memperisitri br.Sihotang,br.Sihite)
Padan Marga Sihombing Lumbantoruan dengan Marga Naibaho dan Marga Sitindaon tetap dipegang kuat sampai sekarang karena masih adanya hubungan pertalian darah (sisada mudar).
Perbedaan pendapat bukan untuk menjadi bibit perselisihan.Dalam hal ini penulis bukan berusaha memperdebatkan padan najolo (sumpah dahulu kala).Tetapi tidaklah lain hanya berusaha melestarikan turi-turian najolo (cerita-cerita legenda) supaya tidak hilang “digilas” kerasnya perputaran jaman.
*Akka padan naung pinukka akka ompunta sijolo-jolo tubu,si ihuttononta akka na parpudi *
ParHorasan ma dihita,
Penulis:
S.T.Sihombing No.17 (Hutagurgur-Raung Nabolon-Datu Galapang-Tuan Guru Sinomba)

Minggu, 05 Juni 2011

SILSILAH SI RAJA BATAK

SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu:
1. Guru Tatea Bulan
2. Raja Isombaon

Guru Tatea Bulan memiliki 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :
* Putra (sesuai urutan):
1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan
2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu)
3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong).
4. Sagala Raja (keturunannya Sagala)
5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning)

*Putri:
1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona)
2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon
3. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul)
4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin).

Raja Isombaon,

Putra Raja Isumbaon ada tiga, yaitu: Tuan Sori Mangaraja, Raja Asiasi (Tunggul ni Juji), Sangkar Somalidang (Langka Somalidang). Raja Asiasi dan Sangkar Somalidang sebelum menikah telah pergi merantau meninggalkan kampung halamannya Pusuk Buhit.
Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan.
2. Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan.
3. Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon).

Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton.

Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon.

Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.
Nai Ambaton (Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon)

Hatiku Kini

Aku merasa tidak berdaya
Dengan beban yang menggerogoti di dada
Yang mampu membuat gurun kesedihan dalam hidupku
Semua terjadi karena cinta
Cinta yang aku pilih untukku
Cinta memang dahsyat
Mampu menghilangkan segala yang terpikirkan
Menghitung yang tak terhitung nilainya

Bagaimana dengan yang ku rasakan sekarang?
Tatkala bila haus air tak ada
Sperti diombang ambingkan
Hidup menyusut dan mengering
Semua karena dia

Berharap air cinta datang menghampiriku
Kudoakan hanya untuk itu
Maukah dia memberi setetes saja
Setetes adalah awal kehidupan bagiku
Bila ia datang padaku akan ku bawa dua keranjang berisi pulau
Kebahagiaan menghampiriku

Setetes lagi akan mengalir
Dan setetes lagi hingga meluap
Semua doa kutujukan membawa dia senantiasa
Hidupku bak di rumah kebahagiaan selamanya
Ku persembahkan 2000 keranjang berisi benua
Segalagalanya untuk dia

Adalah sebuah harapan
Yang ditunggu hingga sampai kapan
Melangkah selangkah maju dan melangkah
Yang kuharapkan kian terkabul
Bersama doa yang tak terkira sedunya
Semuanya hanya karena harapan
Harapan itu adalah cinta

Cinta memang tak terkubur
Tak hanyut dibawa tsunami
Wahai engkau cinta
Datanglah padaku
Aku menunggumu

Sabtu, 04 Juni 2011

ABSTRAK

ANALISIS KINERJA SUMBER DAYA MANUSIA PADA KANTOR PUSAT PT. BANK RIAU KEPRI PEKANBARU

PT. Bank Riau Kepri merupakan salah satu perusahaan daerah milik Pemerintah Provinsi Riau yang bergerak dalam bidang perbankan yang berdiri sejak tahun 1961. PT. Bank Riau Kepri memliki visi sebagai perusahaan perbankan yang mampu berkembang dan terkemuka di daerah, memiliki manajemen yang profesional dan mendorong pertumbuhan perekonomian daerah sehingga dapat memberdayakan perekonomian rakyat.
Penelitian ini dilaksanakan pada Kantor Pusat PT. Bank Riau Kepri di Pekanbaru dengan jumlah sampel sebanyak 73 orang responden. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kinerja sumber daya manusia dan tingkat kinerja sumber daya manusia pada Kantor Pusat PT. Bank Riau Kepri Pekanbaru dengan perumusan masalah adalah faktor apakah yang mempengaruhi kinerja sumber daya manusia pada Kantor Pusat PT. Bank Riau Kepri Pekanbaru. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode ramdom sampling dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuisioner dan wawancara. Data penelitian ini terdiri dari data primer, yaitu data tanggapan responden tentang kinerja sumber daya manusia dan data sekunder, yaitu data tentang jumlah karyawan dan frekuensi pendidikan dan pelatihan, sejarah perusahaan, struktur organisasi, dan aktivitas perusahaan.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja sumber daya manusia pada Kantor Pusat PT. Bank Riau Kepri adalah tingkat pengetahuan dan tingkat keahlian/ keterampilan. Tingkat pengetahuan pegawai pada Kantor Pusat PT. Bank Riau Kepri Pekanbaru berada pada kategori baik. Sedangkan tingkat keahlian/ keterampilan pegawai pada Kantor Pusat PT. Bank Riau Kepri Pekanbaru berada pada kategori cukup.
Oleh sebab itu, untuk lebih meningkatkan kinerja sumber daya manusia di masa yang akan dating, maka disarankan kepada pihak manajemen untuk melakukan kebijakan dan rencana strategis pengelolaan sumber daya manusia yang berorientasi pada kuantitas dan kualitas dan mengintensifkan pelaksanaan pelatihan inhouse training maupun pelatihan ekstern dalam negeri maupun luar negeri.

Nilai Budaya yang Utama pada Orang Batak Toba

Deskripsi (secara Antropologis) mengenai 9 Nilai Budaya Yang Utama pada Masyarakat Batak Toba.

KEKERABATAN
Yang mencakup hubungan premordial suku, kasih sayang atas dasar hubungan darah, kerukunan unsur-unsur Dalihan Na Tolu( Hula-hula, Dongan Tubu, Boru), Pisang Raut (Anak Boru dari Anak Boru), Hatobangon (Cendikiawan) dan segala yang berkaitan hubungan kekerabatan karena pernikahan, solidaritas marga dan lain-lain.

RELIGI
Mencakup kehidupan keagamaan, baik agama tradisional maupun agama yang datang kemudian yang mengatur hubungannya dengan Maha Pencipta serta hubungannya dengan manusia dan lingkungan hidupnya.

HAGABEON
Banyak keturunan dan panjang umur. Satu ungkapan tradisional Batak yang terkenal yang disampaikan pada saat upacara pernikahan adalah ungkapan yang mengharapkan agar kelak pengantin baru dikaruniakan putra 17 dan putri 16. Sumber daya manusia bagi orang Batak sangat penting. Kekuatan yang tangguh hanya dapat dibangun dalam jumlah manusia yang banyak. Ini erat hubungannya dengan sejarah suku bangsa Batak yang ditakdirkan memiliki budaya bersaing yang sangat tinggi. Konsep Hagabeon berakar, dari budaya bersaing pada jaman purba, bahkan tercatat dalam sejarah perkembangan, terwujud dalam perang huta. Dalam perang tradisional ini kekuatan tertumpu pada jumlah personil yang besar. Mengenai umur panjang dalam konsep hagabeon disebut SAUR MATUA BULUNG ( seperti daun, yang gugur setelah tua). Dapat dibayangkan betapa besar pertambahan jumlah tenaga manusia yang diharapkan oleh orang Batak, karena selain setiap keluarga diharapkan melahirkan putra-putri sebanyak 33 orang, juga semuanya diharapkan berusia lanjut.

HASANGAPON
Kemuliaan, kewibawaan, kharisma, suatu nilai utama yang memberi dorongan kuat untuk meraih kejayaan. Nilai ini memberi dorongan kuat, lebih-lebih pada orang Toba, pada jaman modern ini untuk meraih jabatan dan pangkat yang memberikan kemuliaan,kewibawaan, kharisma dan kekuasaan.

HAMORAON
Kaya raya, salah satu nilai budaya yang mendasari dan mendorong orang Batak, khususnya orang Toba, untuk mencari harta benda yang banyak.

HAMAJUON
Kemajuan, yang diraih melalui merantau dan menuntut ilmu. Nilai budaya hamajuon ini sangat kuat mendorong orang Batak bermigrasi keseluruh pelosok tanah air. Pada abad yang lalu, Sumatra Timur dipandang sebagai daerah rantau. Tetapi sejalan dengan dinamika orang Batak, tujuan migrasinya telah semakin meluas ke seluruh pelosok tanah air untuk memelihara atau meningkatkan daya saingnya.

HUKUM
Patik dohot uhum, aturan dan hukum. Nilai patik dohot dan uhum merupakan nilai yang kuat di sosialisasikan oleh orang Batak. Budaya menegakkan kebenaran, berkecimpung dalam dunia hukum merupakan dunia orang Batak. Nilai ini mungkin lahir dari tingginya frekuensi pelanggaran hak asasi dalam perjalanan hidup orang Batak sejak jaman purba. Sehingga mereka mahir dalam berbicara dan berjuang memperjuangkan hak-hak asasi. Ini tampil dalam permukaan kehidupan hukum di Indonesia yang mencatat nama orang Batak dalam daftar pendekar-pendekar hukum, baik sebagai Jaksa, Pembela maupun Hakim.

PENGAYOMAN
Dalam kehidupan sosio-kultural orang Batak kurang kuat dibandingkan dengan nilai-nilai yang disebutkan terdahulu. ini mungkin disebabkan kemandirian yang berkadar tinggi. Kehadiran pengayom, pelindung, pemberi kesejahteraan, hanya diperlukan dalam keadaan yang sangat mendesak.

KONFLIK
Dalam kehidupan orang Batak Toba kadarnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada pada Angkola-Mandailing. Ini dapat dipahami dari perbedaan mentalitas kedua sub suku Batak ini. Sumber konflik terutama ialah kehidupan kekerabatan dalam kehidupan Angkola-Mandailing. Sedang pada orang Toba lebih luas lagi karena menyangkut perjuangan meraih hasil nilai budaya lainnya. Antara lain Hamoraon yang mau tidak mau merupakan sumber konflik yang abadi bagi orang Toba.

Oh Darling

Oh! Darling, please believe me
I'll never do you no harm
Believe me when I tell you
I'll never do you no harm

Oh! Darling, if you leave me
I'll never make it alone
Believe me when I beg you
Don't ever leave me alone

When you told me you didn't need me anymore
Well you know I nearly broke down and cried
When you told me you didn't need me anymore
Well you know I nearly fell down and died

Oh! Darling, if you leave me
I'll never make it alone
Believe me when I tell you
I'll never do you no harm

When you told me you didn't need me anymore
Well you know I nearly broke down and cried
When you told me you didn't need me anymore
Well you know I nearly fell down and died

Oh! Darling, please believe me
I'll never let you down
Believe me when I tell you
I'll never do you no harm